<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=244007652195288540&amp;blogName=DOKUMENTASI+KITA+DI+SURYALAYA&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLACK&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fmusciner.blogspot.com%2Fsearch&amp;blogLocale=in&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fmusciner.blogspot.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

28 Februari 2009



7 Panduan Jadi Ayah Teladan

Tidak hanya ibu, peran ayah dalam mendidik anak pun amat besar. Menurut Dra. Henny E. Wirawan, M.Hum., Psi, seorang ayah bisa menjadi role model atau model peran. Misalnya, mengajarkan bagaimana menjadi orang yang tekun dalam bekerja. Ayah juga berperan sebagai pemberi dana keluarga sekaligus menjadi pengamat dari sudut pandangnya sebagai ayah.

ANAK DAN AYAH BELAJAR
Apa saja yang bisa dilakukan seorang ayah dalam mendukung pendidikan saat si anak mulai sekolah?

1. Menemani belajar
Jika biasanya ayah membaca koran sendiri, sekarang membacalah bersama si kecil yang sedang belajar. Keberadaan ayah sudah mendorong anak untuk lebih serius belajar. Jika perlu bertanya, ada ayah. Agar proses belajar anak menyenangkan, hindari cara memaksa, memarahi atau main pukul.

2. Memberi contoh
Saat menemani anak belajar, sebaiknya ayah membaca buku dan koran. Intinya, menunjukkan bahwa membaca itu merupakan suatu hal yang menyenangkan.

3. Memantau jam belajar
Hal ini dilakukan agar anak tahu bahwa dia punya jam belajar, dan belajar sesuai jam yang ditentukan. Saran Henny, buat kontrak belajar antara ayah dan anak supaya anak lebih serius dalam belajar.

4. Menghibur dan Mendampingi
Seorang ayah memiliki peran yang besar untuk menghibur dan mendampingi si kecil ketika mengalami kegagalan, bukan malah menghukumnya.

5. Memantau kegiatan belajar
Meski sibuk, Henny menyarankan agar sang ayah tetap memantau kegiatan belajar anak. Caranya, dengan pesan singkat atau telepon. Lontarkan pertanyaan, "Ada tugas apa hari ini? Kamu kerjain dulu PR-nya, nanti Papa yang periksa."

6. Tidak menuntut banyak
Kalau memang si kecil tidak seminat dengan ayahnya, jangan dipaksa untuk satu minat. "Tugas orangtua cuma memfasilitasi dengan les sesuai minat anak."

7. Antar jemput
Sebelum bekerja, ayah bisa meluangkan waktu mengantar anak ke sekolah. Dalam perjalanan, ajak anak untuk cerita bagaimana kejadian di sekolah. Kalau ada waktu, jemput anak pulang.

HINDARI MAIN PUKUL
Dalam proses belajar, Henny berpesan, jangan jadikan memukul sebagai senjata utama dalam mendidik anak. "Gunakan kalau sudah pamungkas. Selebihnya, lakukan upaya mengubah perilaku anak menjadi lebih baik karena kesadaran bukan karena ketakutan."

JIKA BUNDA JADI SINGLE PARENT

Bagi orang Indonesia, banyak ayah pengganti seperti paman dan kakek. Orangtua tunggal tak perlu khawatir anaknya tak berkembang secara normal. Carilah tokoh pengganti yang bisa dicontoh anak, baik di lingkungan keluarga, sosial maupun agama.

Label:


Oleh : Mamahnya Habib



BLOG YANDA HABIB

Oleh : Mamahnya Habib

27 Februari 2009



Cara agar Anak Mau Makan Sayur

Melihat anak tumbuh dan berkembang dengan sempurna adalah harapan setiap orangtua. Tak heran jika untuk mewujudkannya anak diberi makanan yang mengandung cukup gizi dan vitamin.

Salah satu cara untuk memenuhi kecukupan gizi dan vitamin adalah dengan mengonsumsi sayur. Namun bagi sebagian orangtua hal tersebut sulit dilakukan karena anak tidak suka makan sayur. Kalau sudah begini orangtua biasanya membujuk dengan iming-iming agar anak mau menyantap sayur.

Sebenarnya ada cara lain yang dapat dilakukan agar si buyung dan si upik mau makan sayur tanpa harus dibujuk, antara lain sebagai berikut:

Buatlah penyajian sayur semenarik mungkin. Misalnya, jika memasak sup, anda bisa membentuk potongan wortel menyerupai bunga matahari atau menambahkan makaroni dengan bentuk yang menarik. Gunakan pula mangkuk yang cukup besar dengan motif atau gambar yang juga menarik untuk menimbulkan selera makan si anak.

Jika anak tetap tidak mau memakan sayur, anda bisa menyajikan sayur tersebut dalam bentuk jus yang dicampur dengan es, misalnya wortel, tomat atau mentimun. Agar lebih menambah rasa, tambahkan sedikit gula atau madu yang juga baik untuk kesehatannya. Jangan lupa agar tampilannya menarik, hiaslah gelas dengan sedotan warna-warni, payung kecil atau kreasi lainnya.

Hal lain yang dapat dilakukan adalah menyusun sayur di atas piring sedemikian rupa sehingga menarik untuk dilihat dan disantap. Anda bisa menggunakan mentimun, wortel, buncis dan seledri untuk membuat wajah orang di atas piring. Berkreasilah semaksimal mungkin dengan sayur yang lain agar nafsu makan si anak bisa muncul.

Terkait dengan poin di atas, anda juga bisa mengajak si kecil untuk ikut berkreasi membentuk makannya menjadi sedap dipandang. Dari langkah ini pun diharapkan seorang anak akan terangsang daya imajinasinya.

Saat memasak, ajaklah si kecil untuk turut andil dalam kegiatan ini, misalnya mereka bisa membantu mencuci sayuran yang akan dimasak atau jika anak sudah cukup besar biarkan mereka memotong sayuran tersebut dengan pengawasan orangtua tentunya. Biarkan pula mereka sesekali mengaduk sayur yang tengah dibuat. Dari sini diharapkan anak akan mencoba memakan apa yang telah dimasaknya.

Langkah terakhir yang dapat dicoba adalah dengan menyembunyikan sayur di dalam makanan mereka. Misalnya dengan memasukkan sedikit sayur di dalam roti isi. Selamat mencoba. sumber

Label:


Oleh : Mamahnya Habib



Jika Memang Salah, Minta Maaflah pada Anak

Mengaku bersalah. Sadari bahwa anda telah membuat kesalahan, dan akui itu padanya. Inilah salah satu faktor penting dalam meminta maaf. Tak jarang ini sulit dilakukan, karena orangtua merasa gengsi. Lupakan gengsi, kalau memang tak ingin masalah terus berlarut.

Tulus. Ketika meminta maaf, anda harus tulus. Anak akan gampang mengetahui ketika anda membohonginya tentang hal ini.

Tenang. Meminta maaf dalam keadaan emosi akan percuma. Kalau anda belum bisa bersikap tenang, katakan padanya bahwa anda butuh waktu untuk sendiri, sebelum melanjutkan pembicaraan dengannya. Kemudian, pikirkan apa yang terjadi dan apa penyebabnya agar pikiran jadi tenang.

Tepat sasaran. Katakan permintaan maaf anda secara langsung dan dalam kalimat yang tidak berbelit-belit. Ingat, yang dimintakan maaf adalah sikap anda yang baru saja terjadi, bukan kepribadian anda. Misalnya, mintalah maaf atas kemarahan dan ucapan anda yang kasar, bukan atas kepribadian yang emosional.

Jangan menyalahkan. Jangan balik menyalahkan anak hanya untuk membenarkan sikap anda. Misalnya, dengan mengatakan bahwa seandainya ia tidak malas, anda tidak akan marah terus padanya. Ini sama saja dengan tidak meminta maaf, melainkan justru menyalahkannya.

Meminta maaf. Mengatakan bahwa anda bersalah dan bertanya apakah ia mau memaafkannya akan mempermudah untuk mengungkapkan penyesalan, sekaligus membuat anak belajar memahami cara memperbaiki hubungan.

Evaluasi. Bersama anak, lihat kembali bagaimana anda bisa menyelesaikan masalah itu dengan baik, dan sepakati cara yang akan dilakukan bila masalah yang sama terjadi lagi nanti.

Lupakan. Bagaimanapun juga, anda hanya seorang manusia, yang tentu tidak sempurna dan bisa berbuat salah. Namun, jangan terus berkutat pada rasa bersalah. Setelah meminta maaf, lupakan masalah tersebut dan berusahalah untuk tidak mengulanginya lagi, sama seperti ketika memintanya tidak mengulang kesalahan.

Jangan berlebihan. Berlebihan dan selalu meminta maaf, bahkan untuk hal-hal yang sangat sepele, justru akan membuat anda kehilangan wibawa. Mintalah maaf karena anda memang bersalah, bukan karena ingin berusaha menerapkan disiplin atau hukuman yang terbilang wajar, atas kesalahannya. sumber

Label:


Oleh : Mamahnya Habib

26 Februari 2009



Anak-anak Belajar dari Apa yang Mereka Alami dalam Kehidupan Ini

Dorothy Law Nolte adalah seorang doktor, pendidik dan penceramah mengenai pendidikan kehidupan berkeluarga.

Dia menuliskan dalam bukunya bahwa segala sesuatu yang diajarkan baik dan positif kepada anak anda maka akan menghasilkan pikiran dan tindakan baik dan positif oleh anak anda.

Berikut adalah kata-katanya untuk kita sebagai orang tua:


Anak-anak bagaikan kertas putih, yang pada perjalannya hidupnya akan menggoreskan tinta kehidupannya masing-masing. Kita sebagai orang tua wajib menjaganya agar nilai-nilai baik dan luhur tetap ada dan terjaga. (B)

Label:


Oleh : Mamahnya Habib



Ngobrol di Meja Makan Bikin Anak Cerdas

DILARANG
berbicara di meja makan agaknya akan masuk dalam daftar hal-hal kuno yang harus segera dibuang. Menurut sebuah penelitian, percakapan yang sering dilakukan sebuah keluarga di meja makan malah akan mempertinggi kecerdasan anak-anaknya.

"Anak-anak prasekolah yang terbiasa ngobrol dan berdiskusi dengan ayah ibunya punya perbendaharaan kata lebih banyak dan kemampuan membaca lebih tinggi dibandingkan mereka yang tinggal dalam rumah yang sepi dari pembicaraan," demikian hasil dari penelitian itu.

Topik apa yang sebaiknya dibicarakan? Tentu yang lebih dari sekadar kata suruhan seperti, "Ayo, habiskan makananmu! Makanan jangan dibuat main!" Sebaliknya, tanyakan pada anak, "Apa yang tadi kalian kerjakan di sekolah?" (Kompas.com)

Oleh : Mamahnya Habib

24 Februari 2009



Berkebun Bersama Si Kecil Yuk…

Adalah sesuatu hal yang sangat menyenangkan untuk anak anak saat melihat tumbuhan yang mereka tanam tumbuh menjadi sesuatu yang indah atau sesuatu yang bisa dimakan.

Berkebun adalah salah satu aktifitas favorit sepanjang masa, untuk segala usia dan bisa dinikmati bersama. Berkebunlah bersama balita anda, karena kebersamaan yang Mom’s bagi dengannya akan meningkatkan kualitas waktu keluarga. Balita anda membutuhkan permainan yang dapat membuatnya merasa dipercaya tanpa takut dilarang karena kotor.
Dan nanti Mom’s akan lihat betapa gigihnya mereka saat menunggu tumbuhan yang ia tanam tumbuh dan berkembang.

Buatlah Acara Berkebun Menjadi Menyenangkan.

Gunakan peralatan berkebun khusus untuk anak anak seperti wadah air, sekop kecil dan sarung tangan kecil. Biarkan balita anda yang melubangi tanah dan menanam bibitnya sendiri, menguburnya kembali dan menyiramnya dengan air. Lihat saja, pasti si kecil tidak ingin berhenti. Jika tidak ada taman yang cukup luas untuk membuat acara berkebun, Mom’s bisa membelikannya pot bunga kecil yang bisa diisi dengan tanah gembur dan biarkan si Kecil menanam tumbuhannya sendiri.

Pilihlah Tanaman Yang Cepat Tumbuh

Pilihlah tanaman yang cepat tumbuh dan berkembang. Kadang kadang anak anak tidak sabar untuk melihat hasil berkebun mereka. Mom’s bisa memilih kacang hijau, selada atau baby carrots untuk tumbuhan yang cepat tumbuh dan bisa dimakan atau berikan bibit bunga matahari karena tumbuhan tersebut cepat sekali berkembang setiap harinya. Sambil berkebun Mom’s bisa sambil bercerita tentang tanaman yang sedang ia tanam. Misalnya jika Mom’s akan menanam wortel, kisah si kelinci yang suka sekali wortel bisa menjadi tambahan acara yang menarik untuk si kecil.

Apapun pilihan Mom’s dan sikecil saat berkebun, kegembiraan dan kebersamaan adalah sesuatu yang paling special. Jangan lupa untuk mengajak suami atau anggota keluarga lainnya berkebun bersama. Karena saat berkebun Mom’s bersama keluarga tak hanya menumbuhkan tumbuhan tapi juga menumbuhkan kebersamaan yang penuh rasa kasih sayang. Selamat Berkebun.(dms)

Label:


Oleh : Mamahnya Habib



HABIB LAGI MANDI TELANJANG

Label:


Oleh : Mamahnya Habib

23 Februari 2009



Kenalkan Internet Seusia Anak

Di zaman serba canggih seperti saat ini, anak-anak semakin mudah menyentuh dunia internet. Agar mereka tetap aman berinternet, ikuti cara mengenalkan internet yang baik sesuai usia anak berikut ini.

A. USIA 2-4 TAHUN
Anak balita yang mulai berinteraksi dengan komputer harus didampingi orangtua atau orang dewasa.

Pendampingan ini bukan sekadar menyangkut soal keselamatan dan keamanan saja, tapi juga membawa anak memiliki pengalaman yang menyenangkan sekaligus memperkuat ikatan emosional antara Si Kecil dengan orangtua.

Pilihlah situs yang cocok, aman, layak dan terpercaya dikunjungi, tanpa perlu memaksa anak keluar dari situs ketika masih menginginkannya. .

B. USIA 4-7 TAHUN
Peran orangtua masih sangat penting untuk mendampinginya ketika berinternet. Orangtua juga harus mempertimbangkan batasan, situs apa saja yang boleh dan tidak dikunjungi Si Kecil.

Orangtua bisa membuat direktori atau search engine khusus agar anak mudah membuka situs yang layak, sehingga, ia akan mendapatkan pengalaman positif jika menemukan banyak hal baru dari internet.

C. USIA 7-10 TAHUN
Di usia ini, anak mulai mencari informasi dan kehidupan sosialnya di luar keluarga. Faktor pertemanan dan kelompok bermain juga mulai berpengaruh secara signifikan terhadap kehidupannya. Ia juga mulai meminta kebebasan lebih banyak.

Anak memang harus didorong untuk bereksplorasi, meski bukan berarti tidak ada pendampingan orangtua. Jadi, sebaiknya tempatkan komputer di ruangan yang mudah diawasi agar anak bebas bereksplorasi dengan internet di rumah.

Pertimbangkan menggunakan software filter, memasang search engine khusus anak, untuk mencapai situs yang boleh dikunjunginya, atau gunakan browser yang dirancang khusus untuk anak.

Di masa ini, fokus orangtua jangan hanya pada apa yang ia lakukan, tapi juga batasi berapa lama ia online.

D. USIA 10-12 TAHUN
Di masa pra-remaja ini, anak butuh lebih banyak pengalaman dan kebebasan. Inilah saat yang tepat untuk lebih mengenalkan fungsi internet dalam membantu tugas sekolah, atau menemukan banyak hal, yang berhubungan dengan hobinya.

Di usia 12, anak mulai mengasah kemampuan dan nalarnya sehingga ia akan membentuk nilai dan norma sendiri, yang dipengaruhi nilai dan norma yang dianut kelompok pertemanannya.

Tugas orangtua adalah membantu mengarahkan kebebasannya. Jadi, fokusnya bukan hanya terpaku pada apa yang ia lihat di internet, tapi juga berapa lama ia online. Batasi penggunaannya, jangan sampai ia tenggelam di dunia maya dan melupakan dunia sosial yang sesungguhnya.

E. USIA 12-14 TAHUN
Inilah saatnya anak-anak mulai aktif menjalani kehidupan sosialnya. Bagi anak pengguna internet, kebanyakan akan tertarik online chat (chatting). Tekankan lagi kepada mereka dasar-dasar penggunaan internet di rumah.

Ingatkan juga, agar jangan pernah memberikan data pribadi apa pun, bertukar foto, atau brertemu muka dengan orang yang baru dikenalnya melalui chatting, tanpa sepengetahuan atau seizin orangtua.

Di usia ini juga anak mulai tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas. Sangat alamiah jika ia mulai penasaran dengan lawan jenisnya. Nah, waktunya orangtua waspada terhadap aktifitas anak.

Orangtua tak harus selalu berada di satu ruangan ketika anak sedang berinternet. Namun, ia harus tahu, orangtua bisa seawaktu-waktu masuk ke dalam kehidupannya, dan bertanya segala hal tentang aktivitasnya, termasuk aktivitasnya di internet. (TABLOID NOVA/INTAN/ ICT Watch)

Label:


Oleh : Mamahnya Habib

02 Februari 2009



BUKU TAMU



Label:


Oleh : Mamahnya Habib

HOME

www.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.ws Alhamdulillah, di sela-sela belajar Ibadah di Inabah 7 Rajapolah Tasikmalaya, (24 Feb. - 2 Mar. 2009), blog inilah yang aku utak-atik dan hasilnya seperti ini. Emang sih abis uang banyak buat ke warnet. Tapi aku dapet ilmu baru dengan harapan sangat berguna di kemudian hari syukur-syukur dapat menghasilkan uang. Amiin.

Blog Yanda Habib, Buku Tamu

Anda Pengunjung Ke:
Kategori: Pendidikan Anak, Psikologi Anak, Menjadi Orang Tua, Video
Arsip Tulisan
  • Februari 2009